Header Ads

Kapolri Tito: "TNI Memiliki Tingkat Kepercayaan Yang Sangat Tinggi Dari Masyarakat."

“Survei Litbang Kompas terakhir, ada dua institusi yang konstan sejak 2005 mengalami peningkatkan kepercayaan publik, dan TNI selalu menempati urutan kalau tidak nomor satu ya nomor dua,” ujar Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Ditambahkan Tito, TNI selalu bergantian posisi puncak dengan lembaga kepresidenan dan diikuti KPK di peringkat ketiga.


Kapolri menyampaikan hal itu di hadapan 4.497 prajurit TNI dan Polri se-wilayah Kalimantan Timur di Dome Balikpapan (28/3/2018) serta dihadiri Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan KSAD Jenderal TNI Mulyono.

Panglima TNI memang sengaja mengajak Kapolri dalam kunjungan kerja dua harinya ke wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia di Kalimantan Utara, guna mengetahui secara langsung kondisi di lapangan.

Salam komando Kapolri dan prajurit TNI di Pulau Sebatik. Foto: beny adrian
Apa yang disampaikan Tito bukanlah tanpa dasar. “Ini berdasarkan survei Litbang Kompas terakhir,” tegasnya lagi.

Menurut Tito, di tengah situasi seperti ini dimana demokrasi mengarah ke liberal, rakyat memegang kekuasan, media sosial semakin kuat, legislatif menguat, perlindungan yang tinggi terhadap HAM, maka kepercayaan menjadi sesuatu yang siginifikan bagi lembaga negara.

“Dengan menguatnya demokrasi dan civilian government, kuncinya adalah public trust, kita harus mendekat ke rakyat, kita harus mendapat kepecayaan publik dan saya belajar kepada TNI untuk itu,” tutur Tito.

Berdasarkan analisanya dari berbagai hasil survei, sejak tahun 1998 sampai sekarang, TNI selalu mendapat public trust yang konstan dan signifikan.

Baca: Tanggapi Langsung Permintaan Warga, Panglima TNI Perintahkan Penerbangan ke Krayan Minggu Depan

“Di era demokrasi seperti ini, elemen pemerintah mana pun kalau tidak mendapat kepercayaan publik mungkin akan degradasi. Sebaliknya kalau mendapat kepercayaan publik, apapun yang diomongin akan dianggap benar,” jelas Tito.

Kapolri akui, TNI adalah lembaga yang paling dipercaya publik. Foto: beny adrian
Masih merujuk kepada survei, Tito menyebutkan bahwa dari 84 lembaga negara yang disurvei, pada awal 2016 Polri berada di urutan tiga paling buruk. Menurutnya ini ironis, karena sejak pisah dari ABRI tahun 2000, Polri  diharapkan mampu mengawal demokrasi. Kenyataannya, harapan publik menurun.

Lalu kenapa posisi Polri begitu jatuh?

Di mata jenderal kelahiran Palembang 1964 ini, semua itu disebabkan oleh power. Kewenangan begitu besar yang diberikan kepada Polri, telah menyebabkan terjadinya penyalahgunaan kekuasaan.

“Kewenangan yang diberikan menjadi besar, power tends to corrupt, dan kekuasaan yang besar pasti akan menyimpang, dan itu justru bukan menjadi modal tapi menjadi mudarat,” jelasnya.

Dengan semua kondisi yang terjadi di Polri, Tito pun mengambil langkah-langkah perbaikan sejak menjadi Kapolri. Tito membuat aturan (rule), tindakan, dan perbaikan internal di Polri dalam rangka menghindari terjadinya abuse of power (penyalahgunaan kekuasaan).

“Alhamdulillah di tahun 2017, mulai ada kenaikan kepercayaan publik, trennya mulai naik meski masih jauh dari rekan-rekan TNI apalagi kepresidenan,” katanya.

Kapolri memberikan bingkisan kepara prajurit Marinir. Foto: beny adrian
Dengan pujian berdasarkan data empiris itu, Tito memang tidak keliru mengatakan bahwa lembaga yang menunjukkan tren peningkatan kepercayaan publik secara konsisten dan tidak pernah turun adalah TNI.

“Polri hanya mengalami kenaikan dua tahun terakhir, menjadi nomor 4, sebelumnya jeblok bahkan di bawah 50 persen.”

Kepada seluruh prajurit TNI dan Polri, Kapolri kembali mengingatkan bahwa jika TNI dan Polri bersatu dan solid maka negara akan aman. “TNI dan Polri akrab, satu visi, apapun bentuk kegiatan nasional akan lancar, insya allah,” urainya.  (beny.andrian/lesat)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.