Header Ads

Imam Al Ghazali Pernah Diremehkan Orang, Begini Kisahnya

foto:pondokilmuhikmah
Diceritakan oleh Imam Izuddin bin Abdis Salam, berkumpullah sekelompok mufti di sebuah masjid. Mereka bersantai sejenak setelah melaksanakan majlis ilmu dan dzikir. Tak lama kemudian, datanglah seorang badui. Berpenampilan apa adanya, laki-laki badui ini menyampaikan pertanyaan yang sukar kepada para Mufti, “Wahai para Mufti,” tegasnya berkata, “bagaimana caranya agar shalat kita bisa khusyuk?”

Para Mufti pun saling berpandangan seraya menunjuk satu dan yang lainnya untuk menyampaikan jawaban. Agak lama. Tapi, tak ada yang angkat bicara. Diam. Hening. Lalu, si badui pergi dengan membawa kecewa sebab pertanyaannya tidak terjawab.

Agak jauh dari majlis para Mufti itu, duduklah seorang laki-laki yang berpenampilan ala kadarnya pula. Ia memanggil laki-laki badui. Ditanyakan oleh si laki-laki, “Apa maksud kedatanganmu?” Si badui pun berkisah tentang pertanyaannya kepada para Mufti.


Si laki-laki yang tak dikenal ini pun memberikan jawaban dengan detail. Si badui juga menyimak dengan saksama. Konyolnya, setelah pertanyaan tersebut dijawab oleh sang laki-laki, si badui justru berteriak, “Celakalah engkah, wahai seorang laki-laki awam! Para Mufti saja tidak bisa menjawab pertanyaanku, bagaimana mungkin kau bisa menyampaikan keterangan sejelas ini?!”

Sebab kencangnya teriakan, para Mufti pun memanggil si badui dan bertanya kejadian yang sebenarnya. Lepas dikisahkan jawaban dari si laki-laki, para Mufti pun langsung mendatangi si laki-laki.

Kepada sang laki-laki tak dikenal itu, perwakilan para Mufti berkata, “Sudilah kiranya jika Tuan mengadakan majlis harian bagi kami. Agar kami bisa mempelajari Islam secara mendalam dari Tuan.”

Keesokan harinya, sang laki-laki sederhana yang tak lain adalah Hujjatul Islam Imam al-Ghazali sudah tidak ditemukan di masjid itu. Beliau melanjutkan kembara ilmunya tepat di malam hari, saat orang-orang tertidur dalam lelapnya.

Peristiwa yang terjadi di masjid al-Umawi ini merupakan salah satu kisah dalam Biografi Hujjatul Islam Imam al-Ghazali Rahimahullahu Ta’ala.

Seperti inilah sebagian kita. Lebih mengedepankan tampilan fisik ketimbang kedalaman ilmu. Seringkali seseorang dianggap hina, hanya karena tampilan sederhana dan tingkat eletabilitasnya yang rendah. Sebaliknya, sebagian kita mengangungkan gelaran dan jabatan. Padahal, gelar hanyalah gelar. Tak bisa menjamin kemuliaan. [Pirman/Kisahikmah] via: http://kisahikmah.com/kisah-badui-yang-meremehkan-imam-ghazali/

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.